Enam Pilar Syiar Dakwah Kampus
Setiap organisasi punya cara sendiri
untuk menunjukan eksistensi dirinya. Hal yang paling umum dilakukan
adalah pengadaan sebuah kegiatan-kegiatan yang menunjukan untuk apa
organisasi itu ada. Sebagai sebuah organisasi dakwah, LDK pun punya cara
sendiri untuk menunjukan eksistensi dirinya. Dan cara itu disebut
dengan Syiar. Banyak cara untuk melaksanakan kegiatan syiar ini, bisa
menggunakan kajian/ta’lim, media, kegiatan kepanitiaan dan lain-lain.
Hal tersebut menjadi pilar penting untuk menjadikan kegiatan syiar
sebuah LDK menjadi hidup dan berkembang. Untuk itu, Gamais ITB memandang
bahwa kegiatan syiar harus memiliki pilar-pilar yang jelas untuk dapat
menghidupkan dan mengembangkan dakwah dikampusnya. Syiar Gamais
memiliki enam pilar utama yang menopang bangunan syiar ini, dimana yang
satu sangat erat dengan yang lainnya. Keenam pilar itu dapat dilihat
pada bagan berikut ini.

Mari kita bahas satu-persatu.
1. Syiar Multimedia
Syiar multimedia merupakan kegiatan syiar
yang dilaksanakan dalam rangka membangun paradigma serta brand positif
objek dakwah. Media yang biasa digunakan Gamais adalah media kertas dan
media maya. Media kertas biasanya ditempel pada papan pengumuman yang
berada ditempat strategis, yaitu tempat dimana sering dilewati objek
dakwah. Media dibuat semenarik mungkin dan “eye catching”
sehingga mau tidak mau bagi mereka yang melewati media ini pasti akan
melihatnya terlebih dahulu karena menarik. Media yang ditempel hendaknya
bervariasi dari waktu kewaktu sehingga mereka yang lewat di tempat itu
tidak bosan melihat media kita. Dan diharapkan dengan seringnya
kebiasaan mereka melihat media yang dibuat maka pesan-pesan yang ingin
disampaikan akan tersampaikan dengan baik dan citra LDK akan menjadi
lebih baik dan dikenal luas oleh objek dakwah.
Begitu pula dengan media maya,
pengoptimalan fungsi facebook, friendster, flixster, website dan lainnya
akan membantu kegiatan syiar kita juga untuk orang zaman digital ini.
2. Humas Internal Kampus
Syiar yang dilakukan harus mengakar
kedalam seluruh elemen-elemen kampus. Untuk itu media tidaklah cukup
memegang tantangan tersebut. Perlu ada sebuah fungsi tambahan lagi agar
seluruh elemen kampus tersentuh oleh syiar. Maka dari itu lahirlah
hubungan masyarakat internal kampus (HIK) untuk menjawab tantangan ini.
Elemen internal kampus terdiri dari Rektorat, Karyawan, Unit Tata Usaha,
Unit Kegiatan Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa, Keluarga Mahasiswa, dan
lain-lain. HIK berfungsi untuk melakukan menjalin hubungan baik terhadap
elemen internal kampus tersebut. Dengan adanya hubungan yang baik, maka
akan timbul respect dan trust antara keduanya. Dari sanalah mulai kita
pengaruhi/tawarkan nilai-nilai islam kepada mereka. Dengan demikian,
bukanlah sebuah euphoria bahwa syiar mampu mengakar kedalam seluruh
elemen-elemen kampus.
3. Kajian/Ta’lim
Ta’lim dan kajian merupakan kegiatan syiar berbasis kegiatan/event yang
dilakukan dalam rangka membentuk kerangka berpikir yang benar tentang
Islam. Kegiatan Ta’lim dan kajian sebaiknya dilaksanakan sesuai dengan
momentum yang tepat. Ketepatan momentum yang diambil akan menentukan
keberhasilan kajian atau ta’lim karena orang-orang cenderung tertarik
kepada hal yang baru dan yang hangat. Ketika momentum pemilu tiba, maka
saya pikir tema “Islam Menjawab Tantangan Politik” merupakan tema yang
tepat untuk diangkat dalam syiar kajian. Begitu pula dengan momentum
lainnya. Adapun ketika momentum “Valentine’s Day” tiba, maka
ta’lim yang bertemakan “Cinta dalam Islam” merupakan tema yang cocok
pula untuk diangkat. Kekuatan kajian dan ta’lim akan lebih kuat lagi
ketika diisi oleh pembicara yang memiliki kompetensi dalam bidangnya dan
tempat yang sejuk dan nyaman. Satu lagi yang penting adalah materi
ta’lim atau kajian harus disesuaikan dengan pesertanya, jangan terlalu
ringan ataupun terlalu berat.
4. Litbang
Rhenald Kasali mengatakan dalam bukunya,
Recode Your Change DNA, bahwa “organisasi yang tidak berubah, maka ia
akan tergilas oleh tantangan zaman.” Setiap organisasi punya umur
hidupnya masing-masing bergantung sampai mana kekuatan mereka untuk
bertahan menghadapi tantangan zaman. Begitu pula dengan LDK. Adanya
globalisasi dan masuknya budaya barat telah mengintervensi
pemikiran-pemikiran pemuda Islam menjadi jauh dari agamanya. Syiar
berfungsi meng-counter hal tersebut. Namun kegiatan syiar yang
tidak diimbangi dengan penelitian dan pengembangan akan menyebabkan
ketidakefektifan dan keefesienan dari kegiatan tersebut. Bisa jadi
kegiatan syiar beberapa tahun lalu tidak akan efektif lagi dilakukan
kembali saat ini karena tantangan zaman telah berubah. Untuk itulah,
kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) itu menjadi hal yang
sangat diperlukan untuk dapat meningkatkan kualitas kegiatan syiar kita
agar dapat mengimbangi intervensi-intervensi pemikiran yang terus
berkembang pula saat ini.
5. Syiar TPB
Mahasiswa Baru merupakan sasaran “empuk”
kegiatan syiar. Mengapa demikian? Karena pikiran mereka yang masih
bersih, belum terkotori oleh ideologi manapun yang ada dikampus. Untuk
itu seharusnya LDK harus berada di barisan depan dalam melaksanakan
kegiatan syiar untuk menanamkan paradigma pikiran yang baik tentang
islam pada mereka. Acara penyambutan syiar yang baik akan sangat
berkesan bagi mereka, sehingga mereka akan mulai memupuk respek dan
kepercayaan mereka pada LDK tersebut. Maka bukan tidak mungkin, mereka
akan berbondong-bondong mendaftarkan dirinya untuk dapat aktif didalam
organisasi itu karena mereka merasa nyaman atas pelayanannya. Mengingat
pentingnya hal itu, Gamais ITB membentuk fungsi syiar tersendiri yang
benar-benar fokus terhadap kegiatan syiar bagi mahasiswa baru ini.
Mahasiswa baru ITB disebut juga mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB).
Maka disebutlah fungsi ini sebagai Syiar TPB.
6. Kepanitiaan
Satu lagi pilar penting Gamais ITB adalah
kepanitiaan. Kegiatan kepanitiaan menjadi penting karena dari
kegiatan-kegiatan kepanitiaan inilah eksistensi dari Gamais ITB menjadi
terlihat oleh objek dakwah. Dengan adanya eksistensi Gamais maka hal itu
pulalah yang membuat objek dakwah kita tahu bahwa sebenarnya kita ada.
Selain itu, kepanitiaan menjadi sarana yang baik pula untuk mengasah
soft skill para kader LDK untuk memanajemen sebuah kegiatan. Kelebihan
lainnya adalah kepanitiaan juga dapat menjadi daya tarik objek dakwah
kita untuk berpartisipasi bersama kita. Dengan demikian objek dakwah pun
mampu menjadi subjek dakwah juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar